Puisi Simiskin yang Agung (D.Zawawi Imron)

Posted by mtsalqomariah Rabu, 07 Maret 2012 2 komentar



SI MISKIN YANG AGUNG
D. Zawawi Imran

Dengan menyebut nama Allah
saya mulai sebuah kisah
tentang seorang manusia
bernama Pak Sanen
Ia bukan orang terkenal
dan tak pernah disebut-sebut di surat kabar
Orangnya sehat
meskipun kerempeng
Matahari yang pijar di langit
adalah iman dalam hatinya

Alamatnya mudah dicari
sebuah gubuk bambu beratap ilalang
di tepi sawah yang hijau
di ujung timur sebuah pulau
di untaian zamrud katulistiwa

Dalam katepenya
pekerjaan ditulis: tani
tapi ia tak punya sawah sendiri
Agamanya Islam, bukan sekedar Islam sunnat
Artinya, dalam sibuk yang bagaimana
shalat tak pernah dilalaikannya
Kalau Pak Sanen sedang bekerja
mencari upah di tengah sawah
lalu didengar azan mengalun:
"Hayya alash shalah
Hayya alal falah
Ayo kita tegakkan shalat
Mari kita peluk kebahagiaan"

Pak Sanen terkesima
bagai mendengar nyanyian sorga
Ia lalu rindu bertemu Allah
untuk menadah
taburan rahmat dan cinta

Segera ia berwudhu meskipun dengan air sawah
Sedikitpun ia tidak merasa malu
menghadap Allah dengan apa adanya
dengan baju kumal bertambal-tambal
dan sarung tua yang tak jelas lagi warnanya
ia tegak di tanggul sawah
karena seluruh permukaan bumi adalah sajadah
Ia bertakbir
dan mengucapkan munajat:
"Sesungguhnya shalatku, amal ibadahku
hidup dan matiku
bagi Allah semata
Tuhan semesta alam"

Pak Sanen dalam shalat
kakinya teap tertancap di bumi
namun hatinya bagai rajawali yang perkasa
menembus langit biru
menggetarkan matahari dan bintang gemintang

Sungguh pemandangan rohani yang mempesona
Seorang hamba Allah yang miskin
masih bersyukur
dalam kemiskinannya

Bila Pak Sanen memandang dunia
dan semua kemegahannya
dirinya seperti tak punya apa-apa
Tapi bila ia tafakkur
dan menyalakan zikir dalam hatinya
Dunia ini menjadi kecil
semakin kecil
hingga menjadi sebutir debu

Hanya Allah yang Mahabesar
Allahu Akbar

Tiba-tiba
ia merasa kaya
karena ia punya Allah
Itulah Pak Sanen
saudara kita seiman
Ia miskin
dan kemiskinannya telah berlangsung tujuh turunan
Tapi ia tak suka meminta-minta
sampai dirinya tak punya harga

Baginya
salah satu seni kehidupan yang paling indah
ialah berkelahi melawan iblis dan setan
yang akan menenggelamkannya
ke lumpur bencana tak terduga
Dulunya
kalah dan menang bertukar silih
Tapi pengalaman demi pengalaman
yang dikuatkan azam pantang menyerah
telah membuat
ia jadi pemain silat yang handal
Semakin tua umur Pak Sanen
semakin tegar ia
dan semakin lincah jurus terjangnya
hingga iblis dan setan
terjungkal kalah
Suatu malam
ketika anaknya yang paling kecil
menangis lapar
Setan menganjurkan agar Pak Sanen
mencuri ketela di kebun tetangga
Andaikan ia mau
O, terbuka sekali kesempatan
Namun ia merasa
Allah akan melihat perbuatannya
Ia malu dilihat Allah
untuk main sikut dan main sikat kanan kiri
Ia merasa malu kepada Allah
yang akan menyaksikan
anaknya disuapi dengan makanan haram

Itulah Pak Sanen
hamba Allah yang miskin
yang gak mau darah saudaranya jadi minuman
yang tidak suka
daging bangsanya jadi santapan

Tetangganya ada juga yang kaya-raya
Seperti Pak Sapoporet misalnya
sapi karapannya saja empat pasang
belum ladangnya yang belasan hektar
Tapi mana mungkin ia berzakat
Ia kan lintah darat
serta tak pernah menyentuh sajadah
kalau pun pernah shalat
itu dulu, ketika hujan abu
Itu pun naik mesjid
tanpa wudhu lebih dahulu

Tetangga yang lain yaitu Haji Fulan
bisa baca kitab
dan sudah empat kali naik haji
tambah satu kali umroh
dengan istrinya yang nomor tiga
Pak Sanen dan Haji Fulan
sering satu shaf kalau jum'atan
itu pun di barisan depan
Serta sering berjabatan tangan
Tapi aneh bin ajaibnya
Pak Sanen tak pernah terima zakat darinya
Jua orang-orang dha'if yang lain
tak pernah kecipratan remah-remah hartanya
Soalnya kalau Haji Fulan mengeluarkan zakat
cukup diberikan kepada isteri-isteri
dan anak-anaknya sendiri yang tercinta
Dari kitab Al-Qur'an
yang diterangkan seorang kiai
Pak Sanen tahu
bahwa dirinya punya hak juga
pada zakat harta tetangganya yang kaya-raya
Tapi bagaimana mungkin
ia bisa menuntut haknya
Ia sadar dirinya lemah
Karena itu,
ia selalu berdoa:
"Ya, Allah
Kalau kelemahanku ini dosa
Semoga Engkau
mengampuni dosaku!
Kelemahanku ini
sungguh tidak kusengaja".

Pak Sanen yang lemah
tetap asudara kita
Perhatikan tatapan matanya
selalu menyebarkan aroma
karena lahir dari telaga jiwa
yang ikhlas dan sederhana
Ia hanya kuli tani
sawah yang dipacul bukan miliknya
Tapi ia bekerja dengan tekun
sampai tubuhnya berlumur peluh
seperti mengerjakan tanahnya sendiri
Bagi Pak Sanen
mengenyangkan dan menyenangkan orang lain
adalah ibadah

Itulah saudara kita
Meskipun miskin masih punya hati nurani
Bagi dia, hidup tanpa kejujuran
dan tanpa harga diri
sama dengan bangkai yang menari

O, Pak Sanen, saudaraku
Aku merasa iri padamu
Kau asah rohanimu
seperti permata indah
yang membiaskan senyum Ilahi

Ada yang bilang Pak Sanen bodoh dan goblog
karena butahuruf dan tak tahu matematika
Namun hatinya
yang disinari dengan zikrullah
selalu nyalang menangkap isyarat-isyarat alam
sampai yang sehalus-halusnya
Di rumahnya
makanan sehari-harinya
hanya nasi singkong campur jagung
dengan lauk sayur kelor sambal terasi
begitu nikmat
begitu berselera
ia makan bersama anak-anaknya

Di rongga dadanya
bunga-bunga syukur bermekaran
harumnya menjangkau sampai ke 'arasy

O, Pak Sanen, sahabatku
Salam dan bahagia untukmu
karena umurmu tak sia-sia
Dalam kemiskinan yang sempurna
kau begitu gagah
mengarungi kehidupan
dengan jiwa yang agung

Para malaikat
dan bidadari
mengagumimu
Bahkan sekuntum mawar di taman Firdaus
dengan berahi mengucapkan doa:
"Ya, Allah
Yang membalas kebaikan dengan kebaikan!
Bila ada tangan
yang boleh menyentuhkan
pada zaman akhirat nanti
Semoga tangan Pak Sanenlah
yang memetikku
Amin!"

1969
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Puisi Simiskin yang Agung (D.Zawawi Imron)
Ditulis oleh mtsalqomariah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://misbahmusmiran76.blogspot.com/2012/03/puisi-simiskin-yang-agung-dzawawi-imron.html . Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

2 komentar :

Gurats mengatakan...

mudah2an ada sebagain petinggi negeri ini yang sempat membaca puisi ini....

Anonim mengatakan...

Mengharukan......

Posting Komentar

Download